S Alasan Kenapa Masyarakat Kita Rata-Rata Susah Kaya walau Sudah Kerja Keras

Alasan Kenapa Masyarakat Kita Rata-Rata Susah Kaya walau Sudah Kerja Keras

Table of Contents
Mungkin sudah menjadi paradoks di masyarakat kita yang kadang bisa membuat orang-orang pada bingung, kenapa sih bekerja lebih keras malah membuat kita lebih miskin bukannya lebih kaya.

Di sini saya tidak mau membahas secara makro dimana kita membahas konflik geopolitik, kesalahan pemerintah dan hal-hal yang terlalu besar yang tidak bisa kita ubah seperti itu. Tapi di sini saya ingin fokus membahas apa yang bisa kita lakukan sebagai individu untuk menjadi lebih baik dalam hal finansial.

Dengan kata lain, yang akan kita bahas adalah masalah pribadi yang harus kita perbaiki secara seksama agar hasil dari kerja keras kita ini bisa lebih matang dan bisa lebih menghasilkan banyak uang setiap bulannya.

1. Ilmu Finansial Masih Kurang

Mungkin masalah yang paling besar yang mendasari kenapa kita yang bekerja sangat keras setiap hari tidak bisa jadi lebih kaya bahkan makin miskin setiap bulannya adalah karena kurangnya pemahaman tentang cara mengelola uang.

Mencari uang memang penting, tapi mengelola uang itu jauh lebih penting. Karena seseorang bisa menghasilkan 20 juta sebulan dan tetap miskin kalau tidak punya ilmu keuangan yang memadai, dan orang yang penghasilannya hanya 2 juta bisa aman secara finansial juga dengan ilmu finansial yang baik.

Contohnya seperti ini, orang yang penghasilannya 20 juta sebulan tapi pengeluaran bulanannya sebesar 19 juta karena gengsi dan gaya hidup yang tinggi tentu akan memiliki kemampuan menabung bulanan hanya 1 juta rupiah, dan orang yang penghasilannya 2 juta sebulan dengan pengeluaran 1 juta, juga memiliki kekuatan menabung 1 juta sebulan.

Belum lagi kalau yang berpenghasilan 2 juta mengerti cara investasi yang baik yang mana memberikan imbal hasil 20% pertahun, tentu dalam 10 tahun ke atas tabungannya akan lebih banyak dari orang yang  memiliki gaji 20 juta.

Tapi coba kita lihat skenario terburuknya yang mana malah lebih banyak terjadi di negara kita, yaitu penghasilan hanya 2 juta sebulan dan karena ilmu finansial tidak matang muncullah pengeluaran bulanan yang berjumlah 2 juta atau lebih.

Mengeluarkan 2 juta sebulan dengan penghasilan 2 juta tentu membuat orang tidak bisa menabung. Apa yang akan terjadi kalau ternyata ada keadaan darurat yang terjadi? Tentu jawaban terakhir adalah PINJOL, dan karena kemampuan menabung itu mendekati 0% pertahun dan kebutuhan manusia tidak menentu setiap bulannya, meningkatlah jumlah hutang yang dimiliki.

Yah, ini adalah kasus yang sangat umum terjadi di indonesia dan tidak bisa di pungkiri kalau penyebabnya adalah kurangnya ilmu finansial, karena kalau seseorang mau belajar tentang keuangan, dia akan bisa menghindari kesalahan-kesalahan finansial seperti di atas, entah dia meningkatkan penghasilan sedikit lebih banyak, atau menekan pengeluaran sedikit lebih banyak.

2. Fokus pada Pekerjaan Bukan Pengembangan

Jujur saja saya melihat orang indonesia itu sebenarnya sangat malas tapi di selubungi dengan pekerjaan yang sangat banyak sampai rata-rata kita tidak sadar kalau kita itu malas.

Kasus paling banyak terjadi adalah, kita bekerja setiap hari di jam yang sama, kemudian kita pulang bekerja di jam yang sama, dan dirumah kita mencari pelarian agar merasa kerjaan kita itu tidak berat, entah bermain game, nongkrong untuk menikmati kebebasan dan sebagainya.

Hanya sedikit dari kita yang sadar bahwa waktu kosong itu adalah peluang emas untuk meningkatkan diri, entah untuk meningkatkan penghasilan atau untuk menjadi lebih dekat pada mimpi yang kita inginkan.

Tapi kebanyakan dari kita malah memperlakukan waktu luang seperti kebebasan yang harus kita nikmati karena sudah terpenjara selama 8 jam di pekerjaan kita.

Kalau saya boleh jujur, yang lebih penting dari sebuah pekerjaan bukan hanya melakukan pekerjaan itu, tapi juga belajar untuk meningkatkan kemampuan di bidang pekerjaan itu.

Misalkan seorang pekerja kantoran, orang yang belajar hal baru setiap hari yang relevan untuk di naikkan jabatannya, akan lebih berpeluang mendapatkan itu dari pada orang yang hanya fokus bekerja lebih rajin setiap hari di bidang yang sama.

Karena yang di butuhkan di jabatan yang lebih tinggi tentu saja skill yang lebih tinggi di bidang yang lebih tinggi dan lebih luas.

Tapi kalau kamu hanya fokus lebih rajin bekerja di satu bidang itu terus tapi belajar, ya tentu kamu akan terjebak di tingkat gaji yang sama, penghasilan yang sama, dan level hidup yang sama.

Makanya rata-rata semakin tinggi pendidikan seseorang semakin tinggi jabatan yang di pegang, dan semakin besar gaji yang di dapatkan. Itu karena penghasilan memang selalu mengikuti kapasitas orang, terutama dalam kemampuan dan skill, bukan kerja keras semata.

Saya di sini tidak mengajak kamu malas, tapi saya mau kita lebih sadar bahwa kerja keras itu harus seimbang dengan belajar keras.

3. Fokus Pada Hasil

Jujur saja kalau masyarakat kita terdiri dari orang-orang yang selalu berorientasi pada hasil. Misalnya dalam melakukan sebuah pekerjaan setiap harinya, mayoritas dari kita bekerja karena terpaksa dan selalu menanti tanggal gajian dan selalu ingin cepat pulang.

Padahal yang dibutuhkan oleh kekayaan adalah proses yang terus berkembang sedikit demi sedikit. 

Kalau pikiran kita terlalu kita fokuskan pada hasil, kita akan merasa sangat lelah dalam bekerja karena tidak ada kenikmatan dalam melakukan pekerjaan tersebut, jadi rasanya kita bekerja keras padahal kita hanya terpaksa melakukannya.

Jadi yang kita lihat sebagai sebuah kerja keras ternyata adalah sebuah kebohongan yang kita ciptakan sendiri.

Kalau kamu tidak percaya apa yang saya katakan, coba apa yang paling membahagiakan dalam proses bekerja kamu, apakah saat kamu bekerja, pulang, gajian, atau saat kamu libur?

Kalau mayoritas dari pertanyaan di atas jawabannya iya, berarti kamu bukan orang yang fokus pada proses tapi hasil.

4. Mencari Validasi Sosial

Mungkin sudah jelas, mencari validasi atau validitas sosial itu akan selalu menjauhkan kita dari kekayaan. Itu karena kadang kalau kita di taruh di sebuah pilihan dimana kita harus memilih pekerjaan dengan gengsi yang rendah tapi penghasilannya tinggi, dan pekerjaan yang gengsinya tinggi tapi gajinya rendah, banyak dari kita akan memilih gengsi.

Karena kita terlalu terpikat pada bagaimana orang lain melihat kita, dan orang yang masih sangat terjebak pada pola pikir ini akan sangat sulit jadi kaya, serajin apapun dia bekerja.

Kasus yang paling sering terjadi adalah saat kita membeli sebuah barang, entah itu smartphone, motor, mobil, rumah atau yang lainnya. Kita selalu memiliki kecenderungan untuk membeli sesuatu yang terlalu bagus melebihi kebutuhan kita.

Yang menyebabkan itu terjadi adalah kita ingin di lihat berhasil oleh orang lain dengan menunjukkan bahwa kita mampu membeli barang bagus.

Tapi coba bayangkan, kalau penghasilan kamu sebulan hanya 3 juta, tapi selalu melihat diri sendiri dari mata orang lain, apa yang akan terjadi.

Tidak mungkin uang 3 juta sebulan itu cukup, yang ada pasti kamu akan minjam sana-sini untuk membeli barang yang terbaik, nongkrong di tempat berkelas dan sebagainya.

Jadi bisa di bilang kalau gaya hidup yang berkaca pada bagaimana orang melihat kita adalah racun buat kondisi finansial kita.

6. Terlalu Banyak Distraksi

Ini sangat jelas sebenarnya tapi jarang kita sadari. Kita setiap hari memegang smartphone, yang isinya mayoritas hiburan. Kita memegang laptop juga sama, semua isinya hiburan.

Jaman dulu, iklan itu di tampilkan di spanduk di tepi jalan, tapi sekarang sudah masuk pada genggaman kita setiap hari.

Algoritma pada semua aplikasi yang ada di smartphone kita juga di atur agar kita semakin banyak menonton video dan semakin tidak mau keluar dari aplikasi yang kita buka, dengan kata lain kita selalu di suguhkan hiburan dan kegemaran kita.

Masalahnya seringkali yang kita inginkan bukan yang kita butuhkan.

Bagaimana bisa seseorang menjadi kaya kalau mayoritas waktunya dalam sehari di habiskan untuk hiburan.

Bahkan sambil bekerja menonton video atau main game. Pulang-pulang dari tempat kerja rasanya sudah bekerja keras, padahal di sana kerjaannya main game.

Makanya saya sebagai pribadi sekarang sudah mengeliminasi distraksi dalam hidup. Saya sudah tidak memiliki sosial media dan game, supaya perkembangan saya dan kesadaran saya pada apa yang perlu bisa lebih baik.

Saya harap kamu bisa mencobanya, karena hasilnya sangat baik untuk saya, kecuali kamu bekerja menggunakan sosial media dan game.

8. Hidup dari Gaji ke Gaji

Kalau boleh jujur, penghasilan masyarakat indonesia itu memang rendah tapi kebanyakan dari kita sebenarnya bisa cukup dengan penghasilan itu kalau kita mau menurunkan gengsi dan keinginan.

Ini yang paling sering membuat orang terjebak pada siklus hidup dari gaji ke gaji.

Contohnya: Kamu beli motor secara kredit, dengan gaji bulanan kamu 2 juta, kamu harus membayar kredit bulanan 1 juta, dan kebutuhan bulanan kamu 1 juta. 

Itu saja sudah membuat penghasilan 2 juta kamu habis, bagaimana mau jadi kaya. Semua gaji yang kamu miliki sudah habis untuk membayar masa lalu, bahkan kadang harus ngutang ke tetangga dan bilang "besok saya bayar pas gajian", padahal pas gajian juga uangnya langsung habis untuk hal lain.


Posting Komentar