
Di zaman sekarang memang internet sudah sangat meluas dan orang sudah bisa mendapatkan informasi dengan sangat cepat tapi entah kenapa masih banyak orang yang salah kaprah dengan menganggap membeli smartphone baru atau membeli motor baru setelah baru panen sebagai sebuah aktivitas membeli aset.
Itu sangat keliru karena motor itu bukan aset dan jauh dari definisi soal aset, bahkan walaupun motor yang di beli misalnya motor antik yang nilainya selalu meningkat setiap tahun, saya masih tidak akan menganggap itu sebagai aset karena ya biaya perawatannya menurut saya tetap besar.
Apa Itu Aset?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), aset adalah sesuatu yang mempunyai nilai tukar atau nilai ekonomi yang dimiliki oleh seseorang, perusahaan, atau lembaga.
Secara lebih lengkap, KBBI menjelaskan bahwa aset merupakan kekayaan atau sumber daya yang memiliki nilai dan dapat memberikan manfaat ekonomi di masa sekarang maupun masa yang akan datang.
Dalam praktiknya, aset dapat berbentuk berbagai hal, misalnya:
-
Aset fisik (berwujud)
Contohnya: tanah, rumah, kendaraan, mesin, dan bangunan.
-
Aset keuangan
Contohnya: uang tunai, tabungan, deposito, saham, dan obligasi.
-
Aset tidak berwujud
Contohnya: hak cipta, merek dagang, paten, dan lisensi.
Secara sederhana, aset bisa dipahami sebagai segala sesuatu yang dimiliki dan memiliki nilai ekonomi, serta berpotensi memberikan keuntungan atau manfaat di masa depan.
Jadi bisa dilihat di atas, yang menjadi poin penting dari kata aset adalah memberikan keuntungan atau manfaat di masa depan, jadi motor atau smartphone itu bisa di kategorikan aset hanya kalau mereka di gunakan dengan efektif untuk meningkatkan kualitas hidup atau uang di masa depan.
Misalnya kalau motor yang di beli bisa dimaksimalkan untuk bekerja, begitupun dengan smartphone digunakan untuk menghasilkan uang lebih banyak dari sebelumnya.
Tapi masalahnya ada jauh lebih banyak orang membeli kedua benda ini bukan untuk meningkatkan penghasilan tapi untuk bergaya atau memenuhi gengsi dengan kedok meningkatkan penghasilan.
Karena memang sifat manusia selalu begitu, manusia kebanyakan membuat keputusan berdasarkan perasaan dan membenarkannya menggunakan logikanya, bukan sebaliknya, dan sifat inilah yang membuat manusia itu rugi dalam banyak aspek dalam hidupnya.
Kalau bukan Aset, Mereka itu Apa?
Smartphone dan sepeda motor, bahkan mobil yang melampaui fungsi dan imbal hasil yang di dapatkan darinya karena harga yang terlalu mahal di sebut sebagai liabilitas.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), liabilitas adalah kewajiban yang harus dibayar atau dipenuhi oleh seseorang, perusahaan, atau lembaga kepada pihak lain.
Secara sederhana, liabilitas dapat dipahami sebagai segala bentuk utang atau tanggungan yang harus diselesaikan di masa sekarang atau di masa yang akan datang.
Dalam praktik keuangan dan akuntansi, liabilitas biasanya muncul karena seseorang atau perusahaan menerima pinjaman, membeli sesuatu secara kredit, atau memiliki kewajiban pembayaran tertentu.
Beberapa contoh liabilitas antara lain:
-
Utang bank
Pinjaman yang harus dibayar kembali kepada bank beserta bunganya.
-
Utang usaha
Kewajiban perusahaan untuk membayar pemasok barang atau jasa.
-
Utang kartu kredit
Tagihan yang harus dibayar kepada penerbit kartu kredit.
-
Utang obligasi
Kewajiban perusahaan atau pemerintah untuk membayar kembali dana yang dipinjam dari investor.
Jika disederhanakan, perbedaan dasar antara aset dan liabilitas adalah sebagai berikut:
Dengan kata lain, motor dan smartphone ini bukannya meningkatkan kekayaan di masa depan malah menjadi beban yang selalu menggerus penghasilan setiap bulannya.
Sebagai contoh, banyak orang di lingkungan kita bahkan kamu yang membaca termasuk salah satunya, dimana padahal yang dibutuhkan hanya sebuah smartphone yang berfungsi untuk membalah whatsapp, dan membuka sosial media untuk bekerja.
Kategori smartphone dengan harga 2 jutaan sebenarnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan itu, apalagi mengingat gaji perbulan misalnya hanya 2 juta dan aset yang dikumpulkan atau bahkan tabungan yang di kumpulkan belum mencapai 20 juta rupiah.
Tapi karena merasa 20 juta rupiah itu sudah mampu dan dengan kedok meningkatkan penghasilan yang sebenarnya belum tentu mungkin terjadi hanya dengan membeli smartphone lebih mahal, jadi terjadilah keputusan untuk membeli iphone yang seharga 10 juta ke atas.
Kalau kita lakukan perhitungan dasar, aset yang dimiliki adlah 20 juta, dengan gaji 2 juta perbulan, jadi setelah melakukan pembelian dengan nominal sekitar 10 juta taruh lah, dia sudah kehilangan 10 juta dari 20 jutanya dan tersisalah 10 juta, dan dia akan membutuhkan 5 bulan dari jam kerjanya untuk bisa mengembalikan uang yang hilang dari aset yang sebelumnya dia miliki.
Dengan kata lain, dia sebenarnya menjual masa depan untuk masa sekarang atau masa lalu, dan akan butuh waku 5 bulan untuk balik ke titik semula, apalagi smartphone ini akan membutuhkan biaya perawatan yang lebih mahal karena sparepartnya mahal dan alat-alatnya juga mahal.
Dan jangan lupa, dia akan membutuhkan lebih dari 5 bulan untuk kembali ke titik awal, karena tidak mungkin dia akan mengalokasikan 100% dari 2 juta penghasilannya untuk di tabung, pasti dia membeli kuota untuk smartphone mahal itu dan juga membeli kebutuhan lainnya, sampailah kita di titik nyata yaitu ternyata dia hanya bisa menabung 500 ribu dari gajinya untuk bisa dia tabung perbulan yang membuat dia menjadi butuh 20 bulan untuk bisa mengembalikan uang yang hilang.
Kamu mungkin berkata tapi kan uangnya tidak hilang, kalau smartphone ini di jual uangnya akan kembali.
Kita semua tahu kalau smartphone dan sepeda motor kalau sudah keluar dari kemasan tokonya pasti harganya langsung turun walaupun baru 1 menit, apalagi kalau alat ini di gunakan beberapa bulan terus di jual uang kita tetap akan berkurang.
Jadi mau melakukan yang mana pun, semuanya salah dan anehnya semua orang malah melakukan itu setiap saat, yaitu membeli sesuatu melampaui keperluannya yang membuat tabungan jadi terkikis dan membuatnya kembali ke kondisi ekonomi 1 tahun, bahkan 2 tahun sebelumnya.
Terus Kita Harus Apa?
Ada Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk melawan sifat ini, karena memang sifat buruk yang dijelaskan di atas adalah sifat yang manusiawi, dan untuk lepas dari sifat itu yang biasanya paling efektif untuk dilakukan adalah membagi uang di awal gajian dengan langsung menggunakan pembagian yang sudah di alokasikan untuk investasi atau tabungan untuk membeli sesuatu yang tidak bisa langsung di uangkan.
Sebagai contoh misalnya kamu mendapatkan gaji 2 juta sebulan, jadi kamu bagi 2, 1 juta untuk kebutuhan, 1 juta untuk tabungan dan investasi, misalnya 500 ribu dari 1 juta tabungan tadi kamu gunakan untuk dana darurat dan 500 ribu untuk investasi, jadi langsung beli aset yang kamu gunakan investasi yang sedikit lebih sulit di uangkan seperti emas atau saham dengan uang 500 ribu itu, dan untuk dana darurat belikan saja reksadana pasar uang karena tidak bisa langsung di ambil uangnya di hari yang sama setelah penjualan.
Cara berikutnya adalah dengan melakukan penundaan pembelian, jadi tunda peroses membeli barang yang kamu rasa kamu butuh itu selama 1 minggu, kenapa 1 minggu karena smartphone dan motor ini mahal jadi butuh waktu berfikir rasional yang lebih lama, dan memang semakin lama kita menunda pembelian semakin paham kita apakah ini kebutuhan atau keinginan.
Jadi jangan langsung beli karena merasa mampu tapi belilah setelah menunda 1 minggu dan pikirkan matang-matang dampak pembelian yang akan di lakukan.
Posting Komentar